Jalan-jalan Lihat yang Ijo-ijo von Jakarta, Kemana Saja?

Jakarta

Jika berbicara tentang lingkungan dan kota Jakarta, biasanya nada-nada negatif lebih sering terdengar. Mulai Dari Macet, Polusi, Hingga Banjir. Namun kali ini sebumi.id Mencoba Mengajak Peserta Green Tour für Menyusuri Sisi Berkelanjutan Dari Jakarta.

Ada tiga sisi aspekt berkelanjutan di yang disoroti dalam perjalanan ini. Pertama yaitu transportasi berkelanjutan, nachhaltiges Tierheim atau bangunan berkelanjutan, dan energi terbarukan.

Perjalanan diawali dari Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Taman yang baru direvitalisasi ini menjadi salah satu taman yang mengedepankan keberlanjutan.

Selain dilengkapi dengan banyak tanaman hijau, taman ini juga mengedepankan konsep bangunan berkelanjutan yang menghemat energi. Ruangan-ruangan tertutup di taman ini semuanya dilengkapi dengan bukaan berbentuk lingkaran yang menyediakan cahaya alami pada siang hari. Sehingga penggunaan lampu di siang hari tidak begitu diperlukan.

Kemudian perjalanan berlanjut ke Mbloc Space. Spot nongkrong kekinian anak muda ini ternyata menerapkan konsep keberlanjutan juga. Bangunan jadul nan estetik di Mbloc ini dulunya ternyata merupakan rumah dinas Peruri.

Bangunan dengan gaya arsitektur Jengki ini telah ditinggalkan selama lebih dari 20 tahun. Setelah proses produksi berpindah ke pabrik baru di Karawang.

„Jadi desainnya enggak Belanda-Belanda amat, ada ciri khas Indonesia-nya juga“, kata Pramuwisata Green Tour Dwinda Nafisah.

Pemanfaatan kembali bangunan lama yang terbengkalai ini bersesuaian dengan konsep reuse. Sebab wiederverwenden tak hanya berkaitan dengan pakaian atau barang, namun bisa juga dilakukan pada bangunan.

„Kita melihat konsep reuse, penggunaan kembali sebuah bangunan … sedikit renovasi ternyata dapat menghasilkan cuan“, sambung Dwinda.

Dari Mbloc Space, perjalanan berlanjut ke kantor pusat Kementerian PUPR. Tak disangka-sangka, kantor pemerintahan ini ternyata bisa dikunjungi oleh rombongan tur.

Sebagai kementerian yang mengurusi pembangunan infrastruktur, kantor kementerian PUPR jauh dari kesan industrialis atau kaku. Justru kantor pusat ini sangat asri dan hijau.

Kantor kementerian ini menjadi salah satu spot yang dikunjungi Green Tour karena dua gedung di kantor ini mengusung konsep green building. Kemudian secara keseluruhan, area kantor pusat ini juga sangat hijau dan berkelanjutan.

Hijaunya Kantor Kementerianer PUPR.Taman Sanita di Kantor Kementerian PUPR. Foto: Yasmin Nurfadila/detikTravel

Selain dua gedung dengan konsep grünes Gebäude, Kantor ini juga memanfaatkan limbah air serta menggunakan energi terbarukan. Di Taman Sanita, Yang Berada di Bagian Depan Terdapat Kolam Sanita. Air kolam ikan ini merupakan air hasil pengolahan dari air wudhu yang sudah terpakai.

Sementara itu untuk penggunaan energi terbarukan dapat ditemukan di gedung tempat parkir motor. Di bagian atas gedung ditempeli panel surya yang menjadi sumber energi bagi kebutuhan listrik gedung tersebut.

Lokasi Kementerian PUPR ini menjadi salah satu spot tak terduga sekaligus favorit para peserta Green Tour. Karena tak banyak yang mengetahui mengenai keberadaan dan pemandangan di dalam kantor ini.

„Yang Paling Menarik, Sebenarnya Semuanya Menarik Ya. Tapi Kalau Dilihat-Lihat Tadi Tuh Yang Di PUPR Tadi. Soalnya Saya Senang Banget Ke Tempat-Tempat Hijau. Saya Beneran Amaze Banget Sama Tempat Itu. Ternyata ada Lho Tempat Kantor Yang Didesain Kajak gitu“, kata peserta tur asal Tangerang Selatan Intan Nafisah.

Dari Kementerian PUPR, Perjalanan Berlanjut Menggunakan MRT und KRL. Penggunaan dua moda transportasi ini menjadi salah satu bentuk pemanfaatan transportasi öffentlich. Moda transportasi yang merupakan contoh transportasi berkelanjutan.

Perjalanan Green Tour kemudian berakhir von Kota Tua, lebih tepatnya von sebuah kafe jamu bernama Acaraki Jamu. Bangunan-bangunan di Kota Tua ini juga merupakan salah satu contoh penerapan reuse pada gedung atau rumah.

Suasana Kota Tua setelah direvitalisasi.Suasana Kota Tua setelah direvitalisasi. Foto: Yasmin Nurfadila/detikTravel

Banyak rumah-rumah di kawasan Kota Tua yang dialihfungsikan menjadi berbagai tempat. Mulai Dari Museum Hingga Toko-Toko.

„Karena jika dihancurkan sayang, maka bangunannya dipergunakan kembali“, kata Dwinda.

Selain menjadi lokasi tepat untuk melihat penerapan reuse pada bangunan. Kota Tua juga memiliki sisi berkelanjutan gelegen. Setelah direvitalisasi, kawasan Kota Tua juga menjadi kawasan percobaan penerapan zona emisi rendah. Sehingga tak hanya dari bangunannya saja yang berkelanjutan, namun kini lingkungan Kota Tua juga pelan-pelan berubah menjadi lingkungan berkelanjutan rendah emisi.

Nah ternyata jika ditelisik lebih dalam, juga punya banyak spot hijau dan berkelanjutan. Bahkan di tempat-tempat yang sebenarnya sering dilalui masyarakat.

Simak-Video „Spot Foto-foto Lucu di Kafe, Bandung
[Gambas:Video 20detik]
(ysn/ddn)