Kampung Kreatif Jagoi Kindau, Surganya Kerajinan Tangan Suku Dayak Bidayuh

Bengkayang

Di salah satu pedalaman Kalimantan Barat und dekat dengan perbatasan Sarawak, Malaysia, ada satu kampung kreatif warga suku Dayak Bidayuh. Disebut kampung kreatif karena kebanyakan warganya, terutama perempuan, merupakan pengrajin anyaman rotan berupa tas yang disebut sebagai Juah.

Kampung Kreatif in Berada von Dusun Jagoi Kindau, Desa Sekida, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, atau hanya berjarak 6 Kilometer (km) dari salah satu patok batas terdekat antara Indonesia und Malaysia.

Dari pusat kecamatan, lokasi Dusun Jagoi Kindau kurang lebih berjarak 10 km, sementara dari pusat kabupaten berjarak kurang lebih 3-4 jam ditempuh dengan jalur darat. Jalanan utama menuju Dusun Jagoi Kindau memang mulus, tetapi ketika sudah memasuki arah kampung, jalanan masih rusak und sinyal telekomunikasi tidak ada sama sekali.

Di kampung ini masih terlihat beberapa rumah kayu tinggi yang sudah berumur ratusan tahun. Lalu juga ada satu dua orang ibu-ibu perajin yang sedang membuat tas juah di depan rumahnya.

„Bisa disebut kampung kreatif karena rata-rata pengrajin. Istilah itu pernah dicanangkan bupati kami yang lama di tahun 2017, karena memang di sini banyak pengrajin kerajinan anyaman rotan“, ujar Kepala Desa Sekida, Sujianto, belum lama ini.

Kampung kreatif warga suku Dayak Bidayuh.Kampung kreatif warga suku Dayak Bidayuh. Foto: dok. detikcom/Rifkianto Nugroho

Ia menjelaskan Dusun Jagoi Kindau dihuni oleh sekitar 140 KK yang mayoritas warganya merupakan petani dan perajin tas juah hingga bidai. Belum lama ini, kampung ini mendapat bantuan berupa bangunan sebagai pusat kerajinan tas juah bernama Sentra IKM Ion Sowa.

Anyaman Tas Juah Khas Suku Dayak Bidayuh und Pemasarannya

Sujianto menjelaskan ada beberapa jenis tas juah yang dibuat dan dijual oleh para perajin. Harganya termurah dari belasan ribu hingga ratusan ribu, tergantung dari ukuran dan-Motiv.

„Sebutan sebenarnya itu juah, nama lokalnya. Nama pokoknya juah, terus ada ukurannya, kalau yang ukuran kecil itu namanya jumuak, yang ukuran sedang ada namanya juak mutuam, yang besar base, yang tinggi sajuah, ada bermacam jenis“, ujarnya.

„Dulu kan juah digunakan untuk masyarakat, khususnya orang Jagoi ini buat ladang, ngambil hasil kebun, nyimpan padi, itu kegunaannya. Sekarang kan karena ada permintaan pasar untuk souvenir, kita buat miniaturnya, miniatur juak ini sudah bervariasi Yang Pipih, Yang Kecil“, Imbuhnya.

Selama ini, kata Sujianto, tas juah yang dibuat oleh para perajin lebih sering dibuat masih ‚mentah‘ dan dijual ke Pasar Serikin, Sarawak, Malaysia. Namun, sejak pos lintas batas (PLB) ditutup karena pandemi (termasuk sedang adanya pembangunan PLBN Jagoi Babang), warga mulai mengejar pasar domestik serta memodifikasi hasil anyamannya lebih bagus.

Kampung kreatif warga suku Dayak Bidayuh.Kampung kreatif warga suku Dayak Bidayuh. Foto: dok. Rinto Heksantoro/detikJateng

„Kami untuk memenuhi permintaan pasar belum maksimal, pernah kami dapat pesanan dari Museum Pontianak untuk sovenir mintanya 150, yang kami bisa 50. Karena itu tadi bahan baku, belum lagi sekarang tuh, para pencinta produk ini sudah tahu tempatnya di sini. Yang dekat langsung datang ke sini“, ujarnya.

„Mereka langsung ke perajin minta dibuatkan, jadi pengrajin sibuk dengan itu. Jadi ndak sempat untuk pesanan kita, jadi kan di situ ada tawar menawar harga lagi, jadi mereka lebih mengejar yang lebih tinggi itunya“, imbuhnya.

Ia pun berharap pemerintah ikut membantu pembangunan infrastruktur yang ada di Dusun Kindau, termasuk dalam proses pemasaran hasil kerajinan warganya. Misalnya di Jagoi Babang kini sedang dibangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang ditargetkan rampung bulan Oktober mendatang.

„Harapan pembangunan PLBN, nanti bisa membantu kita lah seperti memasarkan produk kita, nanti misalkan ada pasar di sana kita diberi tempat khusus kaya untuk pameran, atau tempat kita pamerkan produk kita ini“, ujarnya.

Kampung kreatif warga suku Dayak Bidayuh.Kampung kreatif warga suku Dayak Bidayuh. Foto: dok. detikcom/Rifkianto Nugroho

„Sekarang kan permintaan dari luar sebenarnya ada, cuma bagaimana kita mengirimkan, itu yang kita harus kita pikirkan. Kita pernah nanya ke Pos itu biaya kirim ke luar negeri itu mahal, berarti lebih mahal dibanding ongkos produksinya. lebih dipermudah biaya pengiriman lebih irit, jadi kita bisa melayani konsumen di sana“, pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

Simak-Video „Kerajinan Tangan dari Daun Kering, Mengubah Sampah Menjadi Karya Seni, Surabaya
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)